Surya Namaskar – Kapal jukung merupakan salah satu atraksi wisata yang banyak diminati oleh wisatawan lokal dan mancanegara di Bali. Sebagai kapal tradisional konvensional, kapal jukung menggunakan bahan bakar minyak sebagai sumber energi penggeraknya. Dalam aplikasinya, penggunaan bahan bakar fosil ini banyak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan.

Berangkat dari hal ini, Julian Mélot dari Azura Marine menggagas jukung bertenaga matahari, yang mereka namai Surya Namaskar. Proyek tersebut menggabungkan perahu tradisional Bali dengan teknologi ramah lingkungan. Surya Namaskar sendiri berarti “salam matahari” dalam bahasa Indonesia.

Surya Namaskar: Kapal Jukung Bertenaga Matahari

Kapal jukung pertama dengan solusi tenaga surya

Kapal jukung bertenaga surya ini memiliki panjang 8 meter dengan lebar hingga cadik sepanjang 5 meter, dengan kecepatan ideal mencapai 15 knots. Kapal ini dapat menampung hingga 8 penumpang. Areal panel surya diletakkan diatas atap perahu dengan luasan mencapai 25 meter persegi, yang dapat menghasilkan daya hingga 5 kWp.

Ingin tahu lebih banyak?

Dapatkan info terbaru tentang aplikasi tenaga surya langsung setiap harinya hanya dengan satu klik, segera gabung!
Email address

Kapal ini juga dilengkapi bank baterai sebesar 8 kWh, yang dapat digunakan untuk menyalakan beban GPS, lampu LED dan WiFi. Jukung ini juga memiliki spot USB dan sistem pengeras suara dengan bluetooth sebagai tambahan peralatan. Untuk sistem energi surya nya sendiri, kapal ini dilengkapi dengan sistem pengamatan secara waktu nyata dengan penyimpanan data, yang berfungsi memantau produksi dan konsumsi energi listrik surya.

Ide mengenai kapal ini muncul setelah Julien Mélot melakukan ekspedisi menyelam di Papua, dimana dia merasakan bagaimana kapal bertenaga bahan bakar fosil memberikan pengalaman kurang nyaman. Mélot menceritakan “Pemandangan (di lokasi penyelaman)-nya fantastis, tapi Anda tidak terlalu menikmati perjalanan, karena suara bising mesin, getaran dan bau bahan bakar kapal yang sudah ketinggalan zaman.”

Sebaliknya, dengan adanya kapal jukung Surya Namaskar, pengguna akan terbebas dari polusi suara, karena tidak ada mesin yang digunakan (kecuali mesin motor kapal), bebas bau dan bebas getaran, namun tetap memiliki kecepatan dan daya jelajah yang sama dengan kapal jukung konvensional.

Surya Namaskar mengelillingi Bali untuk menyebarkan energi bersih

Kapal Jukung ini telah berlayar mengelilingi Bali pada September hingga Oktober 2017 lalu, dengan jarak tempuh mencapai 140 km. Berlayar dari Teluk Benoa dan hingga kembali ke titik yang sama, kapal ini diawaki oleh 3 orang.

Dengan membawa misi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang potensi luar biasa energi terbarukan, terutama matahari, Surya Namaskar membuktikan bahwa teknologi listrik surya sudah siap, tersedia, handal dan hemat biaya untuk diaplikasikan.

Melalui pengenalan pengetahuan dan pengalaman baru kepada komunitas nelayan lokal dan operator tur mengenai perahu yang lebih bersih, senyap dan bebas biaya operasi serta perawatan alternatif, Julian Mélot dan Azura Marine (perusahaan dibalik kapal jukung bertenaga surya ini) menawarkan alternatif cara berwisata baru di Bali.

https://janaloka.com/wp-content/uploads/2017/10/Surya-Namaskar-Solar-Boat-940x627.jpghttps://janaloka.com/wp-content/uploads/2017/10/Surya-Namaskar-Solar-Boat-300x200.jpgGalih RadityaApplicationInitiativesaplikasi,baterai,business,community,design,development,feed in tarif,Financing,Indonesia,inovation,Inverter,kapal,Listrik desa,OFF GRID,Panel surya,PLTS,produk,renewable energy,solar pv,startup,technology,tenaga suryaSurya Namaskar - Kapal jukung merupakan salah satu atraksi wisata yang banyak diminati oleh wisatawan lokal dan mancanegara di Bali. Sebagai kapal tradisional konvensional, kapal jukung menggunakan bahan bakar minyak sebagai sumber energi penggeraknya. Dalam aplikasinya, penggunaan bahan bakar fosil ini banyak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Berangkat dari hal...The #1 Solar Energy Crowd

Artikel yang mungkin anda suka: