Produsen listrik tenaga surya membuat rekor baru dengan menjual listrik tenaga surya lebih rendah dari listrik batubara. Sebuah pengembang di Arab Saudi melakukan bidding untuk tender pembangunan 800 MW proyek PLTS untuk The Dubai Electricity & Water Authority, dengan harga jual 2,99 cent per kWh atau setara Rp. 397,77.

Harga Listrik Tenaga Surya Lebih Rendah Dari Listrik Batubara

Proyek yang akan digunakan untuk fasilitas utilitas Persian Gulf emirate ini, memiliki harga jual 15% lebih rendah dari fasilitas yang dibangun di Mexico bulan April lalu, menurut Bloomberg New Energy Finance.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, harga jual listrik tenaga surya memang telah terjun bebas. Terlepas dari teknologi yang digunakan, beberapa produsen listrik tenaga surya telah berhasil menciptakan “trend” harga baru.

Sekarang, Harga Listrik Tenaga Surya Lebih Rendah Dari Listrik Batubara

Awal tahun 2015, Acwa Power International dari Arab saudi membangun sebagian dari proyek Dubai solar park dan menjualnya produksi listriknya sebesar 5.85 cents per kWh atau setara Rp. 778.50. Nilai ini kemudian menjadi acuan harga di proyek Peru dan Mexico, sebelum akhirnya Dubai mengumumkan bid harga 2,99 cent per kWh pada 2 mei kemarin.

Harga jual ini lebih rendah dari fasilitas pembangkit batubara yang akan dikomisioning di Dubai pada bulan Oktober ini. fasilitas pembangkit batubara ini akan mulai beroperasi pada 2020, dan diharapkan dapat memproduksi daya dengan dengan harga jual 4,05 cents per kWh atau setara Rp. 539.06 selama 25 tahun (PPA).

Ingin tahu lebih banyak?

Dapatkan info terbaru tentang aplikasi tenaga surya langsung setiap harinya hanya dengan satu klik, segera gabung!
Email address

Apakah investasi listrik tenaga surya menguntungkan?

Harga listrik tenaga surya yang sangat murah ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Apakah proyek ini menguntungkan? Terlebih setelah SunEdison Inc. akan bangkrut. Beberapa bank pun, mulai mempertanyakan apakah investasi ini betul menguntungkan?

Enel Green Power’s Chief Executive Officer, Francesco Venturini, yang mengikuti bid tender di Mexico bulan lalu dengan memberikan penawaran harga jual 3,5 cents per kWh atau setara Rp. 465.85 menyatakan bahwa investasi listrik tenaga surya tetap menguntungkan walau harga jual tetap rendah.

Hal yang mungkin menjelaskan mengapa keuntungan tetap ada adalah kapasitas PLTS terpasang yang besar dan dengan biaya teknologi yang dapat dipastikan terus mengalami penurunan. Sehingga akumulasi dari variabel tersebut adalah harga yang kompetitif.

Pemerintah akan sangat terbantu dengan kondisi ini, di satu pihak mereka tidak terbebani dari sisi biaya investasi pembangunan dan mereka bisa mendapatkan listrik “bersih” dan “murah” secara bersamaan.

https://janaloka.com/wp-content/uploads/2016/05/SolarPanelsNevada.jpghttps://janaloka.com/wp-content/uploads/2016/05/SolarPanelsNevada-300x206.jpgJanalokaFinanceSolaraplikasi,business,community,design,development,feed in tarif,Financing,Indonesia,inovation,Inverter,janaloka.com,Listrik desa,MPPT,net metering,Panel surya,Pemerintah,PLTS,renewable energy,solar systemProdusen listrik tenaga surya membuat rekor baru dengan menjual listrik tenaga surya lebih rendah dari listrik batubara. Sebuah pengembang di Arab Saudi melakukan bidding untuk tender pembangunan 800 MW proyek PLTS untuk The Dubai Electricity & Water Authority, dengan harga jual 2,99 cent per kWh atau setara Rp. 397,77. Harga Listrik Tenaga...The #1 Solar Energy Crowd