Sejarah sel surya dimulai dari ditemukkannya aliran listrik matahari (surya) pertama kalinya oleh Alexander Edmond Beequerel, yang merupakan seorang ahli fisika yang berasal dari Jerman pada abad ke-19. Ia menangkap peristiwa dimana secara kebetulan berkas sinar matahari mengenai larutan elektro kimia yang mengakibatkan peningkatan muatan elektron.

Photoelectric effect dalam sejarah sel surya

Setelah satu abad berlalu, yakni pada awal abad ke-20, Albert Einstein mulai mengembangkan penemuan tersebut. Einstein menamai penemuan Alexander Edmond Beequerel dengan nama “Photoelectric effect
yang menjadi dasar pengertian “Photovoltaic effect”.

Einstein melakukan pengamatan pada sebuah lempeng metal yang melepaskan foton partikel energi cahaya ketika energi matahari mengenainya. Foton-foton tersebut secara terus-menerus mendesak atom metal, sehingga terjadi partikel energi foton yang bersifat gelombang energi cahaya.

Sinar yang memiliki energi foton tinggi dan gelombangnya pendek dinamakan dengan sinar ultraviolet, sebaliknya sinar yang memiliki energi foton rendah dan memiliki gelombang panjang dinamakan sinar
infrared.

Sejarah Sel Surya Dan Perkembangannya Hingga Hari Ini

Dari hasil pengamatan Einstein tersebut, maka sekitar tahun 1930, ditemukan konsep baru Quantum Mechanics yang digunakan untuk menciptakan teknologi solid state. Teknologi tersebut dimanfaatkan oleh Bell Telephone Research Laboratories untuk membuat sel surya padat pertama.

Ingin tahu lebih banyak?

Dapatkan info terbaru tentang aplikasi tenaga surya langsung setiap harinya hanya dengan satu klik, segera gabung!
Email address

Sel surya terus berkembang dengan teknologi baru

Dengan semakin berkembangnya zaman, maka pemanfaatan dan desain sel suryajuga  semakin berkembang. Hal
ini terjadi pada tahun 1950-1960 dimana sel surya siap diaplikasikan ke pesawat ruang angkasa. Perkembangan sel surya semakin pesat pada tahun 1970-an, dimana sel surya diperkenalkan secara besar-besaran di seluruh dunia sebagai energi alternatif yang terbarukan dan ramah lingkungan.

Oleh karena itu, panel surya mulai diaplikasikan pada Low Power Warning System dan Offshore Buoys. Perkembangan tersebut tak lepas dari kendala masih belum bisanya produksi secara masal karena pembuatan panel surya masih secara manual.

Tahun 1980-an, perusahaan-perusahaan pembuat panel surya menjalin kerjasama dengan pemerintah agar produksi panel surya bisa semakin banyak, sehingga dengan kuantitas yang banyak mampu menekan biaya produksi yang berbanding lurus dengan harga satuan sel surya yang dapat terjangkau.

Saat ini, tahun 2000-an, aplikasi panel surya telah diterima dengan luas. Banyak pabrikan yang memiliki kapasitas produksi hingga ribuan MW per tahunnya. Indonesia, bahkan juga telah ikut serta dalam mensuplai kebutuhan energi surya secara global. Kedepannya, diharapkan dengan semakin besarnya permintaan, akan mampu menekan biaya jual lebih besar.

https://janaloka.com/wp-content/uploads/2017/08/solar-bell-janaloka.gifhttps://janaloka.com/wp-content/uploads/2017/08/solar-bell-janaloka-300x457.gifGalih RadityaSolarcommunity,development,einstein,energi matahari,energi surya,listrik surya,net metering,Panel surya,panel surya murah,photovoltaic effect,PLTS,renewable energy,sejarah,sel surya,Solar,solar panel,solar pv,technologySejarah sel surya dimulai dari ditemukkannya aliran listrik matahari (surya) pertama kalinya oleh Alexander Edmond Beequerel, yang merupakan seorang ahli fisika yang berasal dari Jerman pada abad ke-19. Ia menangkap peristiwa dimana secara kebetulan berkas sinar matahari mengenai larutan elektro kimia yang mengakibatkan peningkatan muatan elektron. Photoelectric effect dalam sejarah sel surya Setelah satu abad berlalu, yakni pada awal abad...The #1 Solar Energy Crowd