Initiatives Solar

Revolusi Energi Terbarukan India Dalam Energi Global

Revolusi Energi Terbarukan India – Pada tanggal 3 Juni (07/17) lalu, dua hari setelah Presiden Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan keluar dari Perjanjian Paris, Perdana Menteri India Narendra Modi berpelukan dengan Presiden Perancis sewaktu kunjungan resmi ke paris.

PM Modi dan Presiden Macron berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon melampui target komitmen negara, sesuai the Paris Agreement, yang mereka pimpin masing-masing. Sekaligus, Presiden Macron mengumumkan bahwa dia akan mengunjungi India pada tahun ini untuk menghadiri konferensi yang membahas tenaga surya.

Tumbuhnya pemimpin industri surya dunia

Untuk para pengamat yang menganggap bahwa produksi energi India akan bergantung pada batu bara, hal ini tentunya sangat mengejutkan. PM Mondi telah bertekad untuk melakukan percepatan 3 tahun dari jadwal untuk mencapai “Intended Nationally Determined Contribution”  melalui Perjanjian Perubahan Iklim Paris.

Awalnya, India memiliki target untuk beralih ke sumber energi terbarukan sebanyak 40% pada 2030, kini India berharap bisa mempercepat targetnya menjadi 2027.

Saat Amerika Serikat mundur dari aksi internasional untuk perubahan iklim dan tetap bergantung pada batu bara. China memperkuat citra dirinya sebagai produsen dominan panel surya dan turbin angin. Sementara beberapa negara Eropa, secara pelan namun pasti, telah beralih dari bahan bakar fosil.

Disaat yang sama juga, India, sedang berkembang menjadi pasar utama energi terbarukan. Dan mempersiapkan rencana investasi agresif untuk energi surya dan energi angin. Revolusi Energi Terbarukan India ini bukan sikap naif perdana menteri untuk “mencari muka” di hadapan dunia internasional. Ini adalah hasil transisi fundamental energi dan perekonomian yang sedang terjadi, yang membuat kepemimpinan India diakui.

Revolusi Energi Terbarukan India Dalam Energi Global
PM Narendra Modi (kiri)

Revolusi Energi Terbarukan India

Agenda energi terbarukan Perdana Menteri Modi bertujuan untuk meningkatkan kapasitas energi terbarukan terpasang yang terhubung dengan jaringan lsitrik utama, dari sekitar 57 gigawatt pada Mei 2017 menjadi 175 gigawatt pada 2022. Dengan peningkatan terbanyak diperoleh dari ekspansi besar pada energi surya.

Kapasitas yang sudah ada di India untuk energi surya saat ini sudah mencapai 12 gigawatt, tiga kali lipat dari tiga tahun yang lalu. Diharapkan untuk naik terus melebihi 100 gigawatt hingga enam tahun kedepan, kemudian ditingkatkan lagi menjadi 175 gigawatt sebelum 2030.

Saat ini batu bara menyediakan hampir 60% dari total kapasitas listrik yang dihasilkan pembangkit listrik di India, sebanyak 330 GW. Namun pemerintah meprediksikan presentase itu akan turun secara substansial dengan kemunculan tenaga surya.

Pada Mei 2017 saja, wilayah Gujarat, Odisha, dan Uttar Pradesh membatalkan proyek Pembangkit tenaga thermal – yang menggunakan batu bara – dengan kapasitas kombinasi mencapai 14 GW.

Penurunan harga sistem energi surya di India

Penurunan harga sistem energi surya, mungkin adalah alasan terbesar mengapa India menyusun ulang rencananya untuk membangun pembangkit bertenaga batu bara. Selama 16 bulan kebelakang, biaya (jual) produksi listrik surya skala utilitas di India telah turun dari 4.34 rupee (setara Rp. 899,99) per kWh pada Januari 2016 menjadi 2.44 rupee (setara Rp. 505,42) pada Mei 2017 – lebih murah daripada batu bara yang mencapai 3.20 rupee (setara Rp. 662,85).

Untuk saat ini, pembangkit tenaga surya dan energi angin berskala besar, kisaran biayanya hampir sama dan lebih murah dibandingkan bertenaga nuklir dan bahan bakar fosil.

Biaya yang rendah untuk sumber energi terbarukan skala utilitas di dalam perekonomian yang sedang berkembang belum pernah terjadi sebelumnya, namun hal ini cukup menggembirakan.

Tahun lalu, saat negara bagian Rajasthan menyelenggarakan lelang listrik tenaga surya, dan para analis energi menganggap tawaran salah satu perusahaan peserta lelang untuk mensuplai tenaga surya dengan tarif 4.34 rupee per kWh terlalu rendah, dan memungkinkan terjadinya kegagalan proyek. Namun, biaya sistem tenaga surya makin turun sebagai dampak persaingan usaha, biaya yang lebih murah untuk seluruh proses rantai pasokan dan suku bunga yang menarik.

Perusahaan internasional yang besar serta kredibel seperti SoftBank Group Jepang, Taiwan Foxconn Technology, dan Tata Power India mulai terjun dalam kompetisi pasar yang tinggi ini. Perubahan ini tidak hanya terjadi di India. Harga tenaga surya di Chili dan Uni Emirat Arab turun 3 cents per kWh pada 2016.


Argumen ekonomi positif untuk sumber energi terbarukan

Tentu saja, ketika negara ekonomi berkembang sedang membangun pembangkit energi baru. Argumen ekonomi positif untuk sumber energi terbarukan sangat kuat dan tumbuh semakin kuat.

Faktor lainnya yang mendukung Revolusi Energi Terbarukan India ini adalah semakin tingginya biaya polusi, lokal dan global, yang dihasilkan dari akibat penggalian, transportasi, pemurnian, dan konsumsi bahan bakar fosil. Saat memilih sumber energi terbarukan, India dan Cina sedang merespon protes warga mereka yang menentang polusi udara dan air, akibat bergantung pada bahan bakar fosil, karena berdampak buruk pada kesehatan warganya sendiri.

Untuk negara-negara miskin, pembangkit surya domestik memiliki sisi keuntungan yang lain, yaitu mengurangi pertukaran mata uang keluar. Hal ini dikarenakan tenaga surya menghentikan impor minyak, gas, dan batu bara dari negara lain.


Tiga Kondisi Utama pengubah dunia

Tiga kondisi utama merupakan hal yang penting dalam Revolusi Energi Terbarukan India di India dan dunia global adalah: pertumbuhan permintaan energi, inovasi untuk membuat grid surya bisa diandalkan, serta lahan yang memadai untuk instalasi modul surya.

Penggunaan listrik per kapita di India masih rendah di antara negara-negara berkembang. Walaupun, permintaan tersebut akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya persediaan listrik. Di India, permintaan listrik yang cukup tinggi, terjadi pada aktifitas komersial dan pendingin ruangan pada rumah. Dimana hal ini terjadi pada siang hari, saat produksi tenaga surya mencapai puncaknya.

Sementara itu, Grid Nasional India baru terwujud pada tahun 2013, dengan menghubungkan beberapa grid-grid regional yang berbeda. Grid-grid tersebut harus andal dan dapat beradaptasi secara maksimal untuk mengatasi jangkauan dan intermiten beberapa bentuk energi terbarukan.

Kepadatan populasi India yang tinggi, berarti pembebasan lahan untuk instalasi surya membutuhkan zonasi wilayah dan perencanaan penggunaan lahan yang bijak. Kebijakan nasional seharusnya menekankan lebih untuk penggunaan lahan-lahan yang tidak begitu krusial untuk dimanfaatkan sektor produktif atau koservasi biodefersiti dan manajemen ekosistem.


Diplomasi Dalam Revolusi Energi Terbarukan India

Energi terbarukan menawarkan solusi untuk menjawab tantangan keamanan energi, seperti biaya yang murah, penyelamatan negara dari pertukaran mata uang dan mengurangi polusi bahan bakar fosil.

Keuntungan-keuntungan ini membawa India dan Perancis mengajukan International Solar Alliance untuk negara-negara “matahari terbit” di wilayah tropis pada konferensi perubahan iklim Marrakkech November 2016. Negara-negara yang mendapatkan fluktuasi radiasi surya yang kuat sepanjang tahun, memiliki kondisi yang menguntungkan untuk membangun pembangkit tenaga surya dengan biaya renda.

ISA adalah perjanjian organisasi antar negara, yang sudah memiliki 123 negara anggota. ISA berkomitmen untuk meningkatkan penggunaan dan produksi tenaga surya dengan saling berbagi pengetahuan teknologi dan memobilisasi dana $ 1 triliun dari bank-bank pengembangan internasional dan sektor swasta hingga 2030. Modi-Macron mendukung perkembangan hingga di negara-negara diluar Perancis dan India.

Peralihan ke energi terbarukan  yang lebih luas di negara-negara berkembang bukan hanya satu-satunya solusi untuk tantangan perubahan iklim. Namun, hal itu menjadi agenda utama strategi global untuk menyelesaikan masalah perubahan iklim dunia. Negara-negara seperti India, Cina, Perancis, dan anggota-anggota ISA mendemonstrasikan bahwa ketidakmampuan pemimpin Amerika Serikat adalah tidak berarti di hadapan revolusi perubahan energi ini.

Sumber: cleantechnica.com