Energy

Tantangan Aplikasi PLTS di Indonesia

Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) telah diprediksi akan menjadi salah satu pembangkit listrik yang paling banyak digunakan di masa depan. Banyak negara di Eropa dan Amerika berlomba-lomba untuk menginstalasi pembangkit jenis ini. Asia juga tidak ketinggalan, Cina menjadi salah satu pemasok panel surya terbesar di Dunia.

Indonesia sebenarnya telah memulai penggunaan listrik tenaga surya cukup lama, semenjak 90an. Namun perkembangan aplikasi ini di Indonesia, masih cukup jauh tertinggal dari negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Ada beberapa hal yang mendasari mengapa sistem panel surya sulit dikembangkan di Indonesia, berikut tiga alasannya:

Teknologi dan jasa pendukung panel surya di dalam negeri masih belum berkembang sempurna

Walaupun Indonesia telah memiliki 8 produsen panel surya yang memiliki TKDN, namun kebanyakan proses produksi yang dilakukan masih sebatas perakitan.  Karena bahan sel surya ataupun kaca tempered nya belum dapat diproduksi oleh industri dalam negeri.

Oleh karena faktor pembiayaan sebesar 60% (karena sesuai nilai TKDN panel surya di Indonesia terbesar masih di kisaran 40%), dan merupakan komponen utama pembuatan panel surya, masih impor. Maka mau tidak mau harga produksinya sangat bergantung dengan ketersediaan suplai dari luar negeri, bergantung pada harga jual komponen produk secara global dan kurs mata uang.

Disamping itu, masih minimnya tenaga ahli untuk desain sistem dan pemasangan pembangkit listrik tenaga surya, menyebabkan PLTS belum sepenuhnya bisa dioperasikan secara optimal. Kesalahan dalam desain sistem (untuk mengejar biaya murah) dan belum adanya pengelola yang handal menyebabkan pembangkit listrik tenaga surya masih menjadi “mahal” dalam aplikasinya.

Sistem jaringan distribusi listrik Indonesia belum mampu menampung listrik PLTS

Pernyataan ini masih bisa diperdebatkan, namun kenyataanya memang sedikit sulit melakukan penyambungan listrik produksi dari sistem panel surya, baik perorangan atau IPP, ke jaringan grid PLN. Alasannya cukup beragam, mulai infrastruktur koneksi jaringan jaringan grid yang belum siap hingga proses administrasi yang sulit.

Kemampuan yang belum baik ini, sebenarnya bisa dipecahkan jika saja kebijakan pemerintah, sebagai dasar pembangunan, untuk penggunaan listrik surya ditata dengan lebih rapi. Penetapan FiT, Pembangunan infrastruktur listrik yang lebih baik ataupun membuka ruang investasi dengan tidak menggunakan kebijakan plafon nilai, bisa menjadi langkah nyata bersama untuk penggunaan PLTS dalam skala yang lebih luas.

PLTS

Masih tarik ulur kebijakan FiT oleh pemerintah

Seperti dijelaskan sebelumnya, Feed in Tarif atau tarif pembelian listrik dari PLTS oleh PLN masih belum ditetapkan. Sehingga pengembangan PLTS swasta (IPP) pun akhirnya masih menunggu. Hal ini tentu wajar, jika melihat dari nilai investasi yang cukup besar untuk awal pembangunan. Karena tanpa jaminan keamanan melalui kebijakan, investor akan terus berpikir ulang untuk membangun PLTS di Indonesia.

Malaysia, yang lebih awal mendorong aplikasi panel surya. Perlahan tapi pasti telah membangun banyak potensi bisnis PLTS di negaranya. Termasuk Thailand, Vietnam ataupun Philipina. Jika Indonesia terus jalan ditempat soal kebijakan, tidak lama lagi Indonesia akan melakukan impor listrik dari negara-negara tetangga yang jelas lebih maju dalam penetapan arah kebijakan energi mereka.

Bagaimana menurut anda?

Apa komentar anda?

6 + four =

Ingin Pasang Panel Surya?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan informasi seputar pemasangan sistem listrik surya
Alamat Email
Aman & Rahasia