Energy

PLTS Adalah Proyek Gagal!

Populasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), semakin bertumbuh setiap tahunnya di Indonesia. Pada Akhir 2013, Populasi PLTS adalah sebesar 27 MWp. Dan meningkat hingga lebih dari 40 MWp pada 2015. Walaupun kondisi ini sebenarnya masih jauh dari target 50 MWp/tahun, atau total 850 MWp pada 2025. Namun, peningkatan populasi ini cukup baik, jika dilihat dari sudut pandang penyedia kebijakan.

Namun yang perlu dicermati adalah mengapa tingkat pertumbuhan PLTS di Indonesia, tidak cukup besar berbanding negara-negara tetangga di ASEAN? Apakah PLTS adalah proyek gagal di Indonesia?

PLTS Adalah Proyek Gagal

PLTS Adalah Proyek Gagal, Betulkah?

Sebenarnya pernyataan diatas tidak sepenuhnya benar, karena banyak juga proyek-proyek PLTS yang dapat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. Namun, disadari atau tidak, beberapa proyek PLTS,ada juga yang berfungsi kurang optimal. Hal ini dikarenakan:

Kurangnya Sosialisasi penggunaan PLTS

Perlu diingat, penggunaan PLTS berbeda dengan penggunaan PLN. PLTS memiliki dasar penggunaan pada total kebutuhan daya yang digunakan dalam satu hari (W/day), sedangkan PLN memiliki dasar penggunaan pada jumlah maksimal kebutuhan daya per jam (Wh).

Hal tersebut penting, karena dengan perbedaan cara penggunaan, PLTS tentu tidak dapat digunakan diluar peruntukan awal. Misalkan pemasangan PLTS digunakan untuk penerangan, maka jika pengguna menambahkan televisi yang digunakan 12 jam sehari dan kulkas yang digunakan selama 24 sehari. Maka yang akan terjadi adalah PLTS gagal berfungsi karena kelebihan penggunaan.

Oleh karena itu penting, bagi pengguna untuk memahami dengan betul tujuan dan cara pemakaian PLTS yang mereka pasang. Sosialisasi terhadap pengguna, merupakan salah satu cara yang efektif untuk memberikan informasi penting ini.

Komponen Produk PLTS hanya dipasang “seadanya”

Di Indonesia, sudah banyak penyedia komponen sistem PLTS. Namun, belum ada aturan baku tentang penggunaan komponen tersebut dalam sistem merujuk pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Yang tersedia, baru hanya SNI untuk panel. Sehingga komponen terpasang, tidak memiliki keseragaman standar dan kualitas.

Oleh karena itu, untuk meminimalisir PLTS agar tidak gagal, maka penyedia kebijakan harus mampu secara tegas mengatur penggunaan PLTS secara lebih baik. Sehingga pengguna dan penyedia layanan dapat bersama-sama menikmati PLTS dan memproduksi listrik sesuai kebutuhan listrik Indonesia.

Selain itu, pengawasan terhadap komponen terpasang harus dilakukan secara menyeluruh dan terus menerus. Sehingga komponen PLTS yang akan dipasang, betul telah memiliki kualitas sesuai dengan kebutuhan dan permintaan.

Kurangnya perawatan dan layanan purna jual PLTS

PLTS dapat digunakan hingga 25 tahun, bahkan lebih. Oleh karena itu, perawatan dan layanan purna jual dari penyedia barang dapat menjadi kunci untuk mengoptimalkan fungsi PLTS. Ketersediaan suku cadang di dalam negeri, dan tersedianya tenaga ahli yang dapat melakukan pemasangan, adalah contoh cara mengatasi perawatan dan layanan purna jual PLTS.

Mengaplikasikan PLTS secara baik

Pemasangan PLTS memang tidak terlalu sulit, namun perlu didampingi oleh mereka yang ahli dan sistematisasi PLTS. Minimal calon pengguna, bisa melakukan konsultasi dengan penyedia barang dan jasa PLTS.

Yang perlu diingat adalah energi surya sangat berlimpah di negara kita. Dengan perencanaan yang baik, instalasi yang sesuai, dan perawatan berkala, maka sangat diharapkan sistem PLTS terpasang dapat beroperasi sesuai dengan target penggunaan.

3 Komentar

  1. Artikel ini sangat bagus,

    Memang benar, Indonesia negara yang paling terbelekanag dalam penggunaan Energi Surya.
    Masalahanya kurang sosialisai oleh pemerintah, tidak ada transparensi dari PLN yang hanya merepotkan konsumen. Hingga kini Masayarakat masi tertanya tanay kapa Mekanisme Net FiT akan di laksanakan..

    Satu lagi akan ada masalaha besar ialah, Indonesia belum bersedia untuk mendukung Industry PV kerana program kompetensi tenaga ahli belum meluas dan tidak jelas, kefahama Konsumen tentang hak mereka sebagai pengguna harus jelas juga kerana Pemmbekal/kontraktor Solar PV harus ada accountability di atas sistem Solar PV yang mereka pasang. Sekarang ini tidak ada pemantauan dan enforcement dari mpemerintah untuk memastikan setiap orang yang memasang sistem PLTS adalah orang teknis yang ter akreditasi, design konsultant yang terakreditasi dan compliant to Industry standard IEC/SNI etc, seperti yang berlaku di luar negara seperti Malaysia, Thailand, Filipina, Suingapore, Australia…
    Jika di Indonesia , sessiapa saya yang ada screw driver, plier sudah bisa melakukan kerja listrik dan solar panel..ini sanagat bahaya dan berisiko kebakaran. Makanya ada saja rumah kebakaran setiap hari…

    Semoga ini akan berubah kedepan nanti..

    Terimakasih,
    Amran..PT Sinergi Elektrik Indonesia

    Balas
    1. Janaloka Author

      Pak Amran,

      Terima kasih banyak atas komentarnya. Apakah menurut Bapak pemerintah belum melihat sepenuhnya potensi ini? Ataukah ada faktor lain yang melemahkan potensi tawar energi surya sebagai energi alternatif di Indonesia? Padahal Philipina, yang cenderung paling akhir mengimplematasikan energi surya, sekarang mereka sudah mulai mengejar ketinggalan tersebut.

      Salam,
      Janaloka

      Balas
  2. Wow that was odd. I just wrote an incredibly long comment but after I clicked submit my comment
    didn’t appear. Grrrr… well I’m not writing all that over
    again. Regardless, just wanted to say superb blog!

    Balas

Apa komentar anda?

2 × four =

Ingin Pasang Panel Surya?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan informasi seputar pemasangan sistem listrik surya
Alamat Email
Aman & Rahasia