Penggunaan tenaga surya untuk penerangan jalan umum, mungkin sudah lumrah kita temui sekarang ini. Jalanan di kota-kota besar di Indonesia, sudah banyak mengaplikasikan sistem mandiri dan bersih ini. Lalu bagaimana dengan PJUTS dan kinetik?

EnGoPLANET, sebuah startup energi yang bermarkas di New York, Amerika, membuat sebuah inovasi cemerlang untuk penerangan jalan umum. Berangkat dari keprihatinan mereka kepada korban angin topan sandy yang tidak bisa mendapatkan pemenuhan energi untuk kebutuhan dasar mereka, maka munculah ide untuk memanfaatkan energi alam bersamaan dengan fasilitas umum.

PJUTS dan kinetik adalah jawaban mereka untuk hal tersebut. Dengan memadukan dua teknologi berbeda, yaitu pemanfaatan energi surya dan energi kinetik. EnGoPLANET menciptakan sebuah fasilitas penerangan jalan yang memiliki banyak kecanggihan.

PJUTS dan kinetik oleh EnGoPLANET

Secara umum, fasilitas penerangan jalan ini memiliki lampu penerangan sebagai fungsi utama mereka, dengan menggunakan lampu berdaya 25 hingga 45 watt dan selembar panel surya fleksibel dengan kapasitas maksimal di 180 wp.

Yang menarik adalah EnGoPLANET menggunakan jalan di depan fasilitas lampu ini untuk juga memanen energi kinetik dari langkah pejalan kaki yang lewat. Ide ini, cukup sederhana yaitu dengan menyiapkan “material” trotoar yang dapat menghasilkan maksimal 7 w daya setiap kali dilewat. Cukup baik bukan?

Ingin tahu lebih banyak?

Dapatkan info terbaru tentang aplikasi tenaga surya langsung setiap harinya hanya dengan satu klik, segera gabung!
Email address

Selain itu, PJUTS dan Kinetik memanfaatkan ruang dibawah panel sebagai tempat iklan dan menambahkan fitur catu daya telepon genggam dengan koneksi yang ramah lingkungan dan tahan terhadap cuaca.

Di bagian tiang, juga terdapat sensor untuk mengatur kebutuhan lampu, sensor kualitas udara, Suhu dan kelembapan, sumber daya video pengawas, pengawasan lalu lintas dan deteksi air. Tidak lupa Wifi dan bangku mungil sebagai pelengkap.

Dengan keberadaan fitur canggih ini, penerangan jalan umum tidak hanya sebatas lampu penerangan saja, melainkan juga sebagai sumber energi baru dan mandiri.

PJUTS di Indonesia

Perkembangan PJUTS, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, cukup baik di wilayah Indonesia ini. Namun permasalahan terbesar PJUTS di Indonesia adalah tingkat ketahanan baterai. Dimana cuaca panas di Indonesia sangat mempengaruhi kinerja baterai.

Selain itu, tingkat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya aplikasi ramah lingkungan masih belum terlalu baik. Sehingga PJUTS yang terpasang tidak dirawat dengan cukup baik sehingga mati dan seringkali kehilangan komponen pendukungnya, seperi baterai.

Oleh karena itu, dengan semakin baiknya inovasi teknologi, sudah sepantasnya masyarakat Indonesia mulai beralih menggunakan listrik yang lebih ramah lingkungan.

https://janaloka.com/wp-content/uploads/2016/03/bb1ca3_e1311c4a3ff74c3195c2dc84a22696a5.jpghttps://janaloka.com/wp-content/uploads/2016/03/bb1ca3_e1311c4a3ff74c3195c2dc84a22696a5-300x200.jpgJanalokaStartupaplikasi,Asitektural,baterai,community,DC coupling,design,development,Financing,Indonesia,janaloka.com,net metering,renewable energyPenggunaan tenaga surya untuk penerangan jalan umum, mungkin sudah lumrah kita temui sekarang ini. Jalanan di kota-kota besar di Indonesia, sudah banyak mengaplikasikan sistem mandiri dan bersih ini. Lalu bagaimana dengan PJUTS dan kinetik?EnGoPLANET, sebuah startup energi yang bermarkas di New York, Amerika, membuat sebuah inovasi cemerlang untuk penerangan jalan...The #1 Solar Energy Crowd