Invention

Penelitian dan Pemanfaatan Sel Surya Organik

Energi surya merupakan sumber energi primadona dalam beberapa tahun belakangan ini, karena jumlah energi surya yang sampai ke bumi setiap menitnya mencapai 700 megawatt atau 10.000 kali lebih besar daripada keseluruhan pemakaian energi dunia.

Dengan tingkat penggunaan yang semakin tinggi, para peneliti sedang mencoba membuat terobosan melalui altematif peranti sel surya yang murah dengan kualitas yang rasional dan mudah difabrikasi, salah satunya dengan inovasi sel surya organik.

Dibawah ini 3 penelitian sel surya organik di Indonesia :

Alang Alang sebagai Modul Sel Surya Organik

Lima orang mahasiswa Universitas Brawijaya melakukan penelitian mengenai sintesis polifuran dari bahan dasar alang-alang (Imperata cylindrica) sebagai polimer alternatif pengganti amorphous silicon solar cell.

Sel surya yang berbahan dasar polimer (organik) berpotensi untuk dikembangkan karena mudah untuk dibuat, biaya produksi murah, ramah lingkungan, bersifat fleksibel dan ringan sehingga lebih mudah untuk diterapkan di berbagai tempat yang terkena sinar matahari.

Alang-alang sendiri dipilih sebagai bahan dasar karena diketahui bahwa alang-alang merupakan tanaman yang potensial  untuk disintesis menjadi polifuran, polimer modul sel surya. Polifuran  merupakan bahan semikonduktor yang bisa mengubah energi foton menjadi energi listrik, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai lapisan aktif pada modul sel surya organik karena sifatnya yang stabil.

Penelitian dan Pemanfaatan Sel Surya Organik

Sel Surya Organik Dari Klorofil Daun Singkong

Dr Alsuhendra MSc, kandidat doktor di Institut Pertanian Bogor (2011), melakukan eksperimen pada daun singkong sebagai alternatif sel surya. Daun singkong mengandung klorofil tertinggi, yakni 3.967,5 µ/g, sehinga dapat diaplikasikan sebagai dasar sel surya organik

Sel surya organik ini dibuat dengan dasar protein kompleks bernama Photosystem I (PS I) yang berperan sebagai komponen konversi. Kloroplas adalah suatu struktur dalam sel-sel tanaman berisi paket-paket klorofil, yang di dalamya terdapat berbagai macam protein kompleks, yang digunakan untuk fotosintesis.

Penelitian ini merujuk pada Shuguang Zhang dari Associate Director Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang menggunakan material ekstrasi dari daun bayam sebagai dasar pengembangan sel surya organik.

klorofil daun singkong cukup efisien sebagai bahan dasar sel surya organik karena pada dasarnya klorofil yang terdapat dalam kloroplas daun tanaman berfungsi untuk mengkonversi cahaya menjadi energi. Sehingga semakin besar jumlah klorofil yang terdapat pada kloroplas daun tumbuhan, maka semakin besar pula cahaya yang dapat dikonversi menjadi energi.

Sel Surya dari Kembang Sepatu

Ari Handono Ramelan dari tim Pusat Studi Material dan Energi Pintar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret – 2010, bersama tim dari Universitas New South Wales, Australia, mengembangkan bunga sepatu, buah duwet, bunga delima, dan kunyit sebagai bahan organik penyusun sel surya berbahan organik.

Struktur pewarna pada hasil ekstraksi bunga atau buah ini berperan sebagai penyerap cahaya dan pemicu aliran elektron dalam sistem. Ekstraksi ini di-campurkan dengan semikonduktor nanopori TiCb menjadi sebuah lapisan tipis. Sel surya ini dikenal dengan nama Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC) yang merupakan generasi ketiga material pembuat panel surya.

DSSC yang berbasis bahan organik diketahui masih memiliki kelemahan, yakni tidak begitu tahan terhadap paparan sinar matahari sehingga mengakibatkan masa pakainya lebih pendek dibandingkan sel surya anorganik, seperti silikon. GaAS, dan GaSb. Oleh karena itu itu diperlukan studi lanjutan untuk mencari cara untuk mereduksi sinar gelombang pendek (radiasi sinar ultraviolet) dari sinar matahari agar umur panel lebih tahan lama.

Apa komentar anda?

17 − 4 =

Ingin Pasang Panel Surya?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan informasi seputar pemasangan sistem listrik surya
Alamat Email
Aman & Rahasia