Energy IPP

Peraturan Menteri tentang Pembelian Listrik dari PLTS oleh PLN

Setelah bergulir sekian lama, wacana mengenai pembelian listrik dari PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) oleh PLN. Akhirnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said pada 12 Juli 2016 telah menandatangani aturan baru, yaitu Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pembelian Listrik dari PLTS oleh PLN.

Dalam Permen ESDM 19/2016 ini, Pemerintah menetapkan Feed in Tariff (FiT) untuk listrik dari energi matahari ini berada pada kisaran antara US$ 14,5 sen/kWh sampai US$ 25 sen/kWh atau Rp 1.885-3.250/kWh. Tarif ini bervarasi tergantung wilayah dimana PLTS berada.

Berikut tarif listrik dari PLTS berdasarkan wilayahnya:

  • DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur: US$ 14,5 sen/kWh
  • Bali: US$ 16 sen/kWh
  • Lampung: US$ 15 sen/kWh
  • Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu: US$ 15 sen/kWh
  • Aceh: US$ 17 sen/kWh
  • Sumatera Utara: US$ 16 sen/kWh
  • Sumatera Barat: US$ 15,5 sen/kWh
  • Riau dan Kepulauan Riau: US$ 17 sen/kWh
  • Bangka Belitung: US$ 17 sen/kWh
  • Kalimantan Barat: US$ 17 sen/kWh
  • Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah: US$ 16 sen/kWh
  • Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara: US$ 16,5/kWh
  • Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo: US$ 17/kWh
  • Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara: US$ 16 sen/kWh
  • NTB: US$ 18 sen/kWh
  • NTT: US$ 23 sen/kWh
  • Maluku dan Maluku Utara: US$ 23 sen/kWh
  • Papua dan Papua Barat: US$ 25 sen/kWh

Dari informasi diatas, wilayah timur, khususnya, Papua memiliki nilai jual yang paling tinggi. Hal ini dikarenakan infrastruktur listrik yang masih kurang sepadan di lokasi ini. Sehingga dengan peraturan ini, pemerintah berharap dapat mengajak lebih banyak perusahaan IPP untuk beroperasi di wilayah Papua.

Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pembelian Listrik dari PLTS oleh PLN

Pekerjaan rumah untuk Pembelian Listrik dari PLTS oleh PLN

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah pasca penetapan Permen ini. Mulai dari bagaimana proses kerjasama akan dijalankan, hingga informasi persyaratan-persayaratan administratif lainnya.

Energi matahari merupakan salah satu potensi terbesar di Indonesia. Pemanfaatan secara lebih luas, merupakan alternatif serius untuk mengimbangi kebutuhan listrik yang selalu meningkat setiap tahunnya. Terutama dengan masih banyaknya daerah yang mengalami pemadaman bergilir setiap harinya.

Semoga kebijakan ini dapat berjalan dengan optimal, sehingga dapat mendorong produktivitas masyarakat secara lebih baik.

6 Komentar

  1. Selamat malam
    Mau tanya tarif tsb utk skala besar ya?
    Gimana kalo kami mengaplikasi plts utk skala rumahan.
    Misal
    Kami pasang sendiri plts nya, kemudian pada siang hari semua energi (daya) yg dihasilkan dari plts kami kirim ke jaringan pln pakai exim meter.
    Tapi dimalam harinya energi tadi kami pakai atau kami pakai listrik dari pln.
    Adakah perhitungan berbeda?
    Apakah berlaku seperti sbb:
    Saat kami kirim listrik ke pln (export) 15000 watt.jam dlm satu hari
    Berarti kami nabung di pln :
    = 15 kwh/day x 1885 rupiah/kwh x 1 day
    = 28275 rupiah per day
    Saat malam hari hingga pagi (45 kwh per day), kami mengkonsumsi listrik (import) dari pln :
    = 45 kwh/day x 1457 rupiah/kwh x 1 day
    = 65565 rupiah

    Jadi kami dlm sehari tinggal bayar selisihnya yaitu 65565 – 28275 = 37390 rupiah

    Apakah perhitungannya seperti itu?
    atau ada biaya tambahan/insentif tambahan?

    Atau ada aturan khusus utk plts perumahan yg sifatnya masih dipakai sendiri alias nitip saat siang hari dan dipakai lagi saat malam hari.

    Suwun
    Semoga ada yg bisa bantu memberikan teknis aturan sesungguhanya

    Balas
    1. Janaloka Author

      Halo Pak Eddy,

      Terima kasih atas komentarnya. untuk pertanyaan bapak mengenai PLTS skala rumah dengan tipe grid tie, yang dihitung adalah selisih daya ekspor (hasil produksi PLTS) dengan daya impor (konsumsi harian rumah).

      Jadi yang menjadi dasar perhitungan adalah jumlah kWh nya itu sendiri.Jika ekspor lebih besar dari impor, maka bapak memiliki deposit kWh yang dapat digunakan kembali sewaktu-waktu. Jika ekspor lebih kecil dari impor, maka bapak akan membayar selisih tersebut kepada PLN.

      Untuk lebih jelas aturan mainnya, memang bapak harus konsultasi dengan PLN area bapak. Tapi menurut pengalaman kami, pemasangan kWh exim dari PLN cukup mudah. Dan setelah 1 tahun pemasangan, kami tidak mengalami kendala dengan pihak PLN.

      Semoga membantu dan jika ada pertanyaan lanjutan jangan sungkan untuk menghubungi kami kembali atau memanfaatkan aplikasi konsultasi gratis kami.

      Terima kasih,
      Janaloka

      Balas
      1. Melanjutkan pertanyaan2 yg diajukan saudara Eddy kristianto,Saya sbg pemula ingin mengetahui perangkat apa saja yg harus disediakan untuk pemasangan PLTS sistem grid tie ini.
        Sekian terima kasih atas jawabannya

        Balas
        1. Janaloka Author

          Hai, Lies,

          Untuk pemasangan perangkat grid tie, yang perlu anda siapkan adalah komponen produk panel surya, inverter grid tie, dan komponen pendukung (seperti penyangga panel surya, kabel, ducting, protektor, surge arester dan lain sebagainya).

          Mau untuk mencoba? Kunjungi halaman konsultasi untuk diskusi lebih jauh.

          Untuk informasi tambahan, silahkan kunjungi https://janaloka.com/sistem-panel-surya-atap/ atau https://janaloka.com/plts-grid-tie-untuk-rumah-tangga/

          Semoga membantu,
          Ninda

          Balas
  2. Sebagai pemula yg berminat unt apply panel surya di rmh dg daya listrik 5.500 VA.
    Mhn dpt dibantu tahapan2 yg harus kami persiapkan .
    Terima kasih .

    Balas

Apa komentar anda?

3 × five =

Ingin Pasang Panel Surya?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan informasi seputar pemasangan sistem listrik surya
Alamat Email
Secure and Spam free...