Energy

Memanen Energi Dari Matahari Dengan Teknologi Fotovoltaik

Memanen energi dari matahari dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu (1) Memanfaatkan cahaya dan panas matahari secara langsung sebagaimana adanya, untuk sumber penerangan di siang hari atau mengoptimalkan suhu bangunan. (2) Memanfaatkan panas matahari untuk menghasilkan energi panas yang dapat digunakan langsung atau mengubahnya menjadi energi listrik. Dan (3) Memanfaatkan sinar matahari dengan teknologi fotovoltaik untuk menghasilkan listrik.

Pemanfaatan yang ketiga, teknologi fotovoltaik, merupakan salah satu pemanfaatan yang mulai banyak digunakan oleh masyarakat dewasa ini.

Ketersediaan energi terbarukan yang tak pernah habis

Dari sisi penyediaan, berdasarkan data dari Dewan Energi Nasional, potensi energi matahari di Indonesia mencapai rata-rata 4,8 kilowatt hour (kwh) per meter persegi per hari, setara 112.000 GWp jika dibandingkan dengan potensi luasan lahan di Indonesia atau sepuluh kali lipat dari potensi Jerman dan Eropa.

Indonesia berada di garis khatulistiwa, sehingga potensi energi matahari di indonesia cukup tinggi. Karena matahari terus ada sepanjang tahun, dengan rata-rata lama bersinar 6 hingga 8 jam per hari, dengan rata-rata lama penyinaran ideal yang dapat memproduksi listrik pada panel surya adalah 4 hingga 5 jam perhari.

Namun hingga saat ini, kapasitas yang tersalurkan dari instalasi pembangkit listrik yang memanen energi dari matahari terpasang, dari 1987 hingga sekarang, adalah baru ± 30 megawatt (MW). Kurang dari satu persen dari total potensi di seluruh Indonesia.

Memanen Energi Dari Matahari Dengan Teknologi Fotovoltaik
Memanen Energi Dari Matahari Dengan Teknologi Fotovoltaik di Bantul via viva.id

Memanen Energi Dari Matahari Dengan Teknologi Fotovoltaik

Dari sisi teknologi, Indonesia telah memiliki 11 pabrik perakitan panel surya, yang dapat memproduksi panel surya sebanyak lebih dari 200 MWp per tahunnya. Beberapa diantaranya sudah melalukan ekspor untuk memenuhi permintaan global.

Untuk perangkat baterai, di Indonesia sudah ada 3 pabrikan baterai yang fokus dalam produksi baterai industri, khusus untuk kebutuhan pembangkit listrik surya. Teknologi yang dihasilkan mulai dari jenis lead acid, lithium, hingga zinc air. Baterai digunakan sebagai tempat penyimpanan energi, ketika matahari tidak bersinar, seperti pada malam hari atau saat berawan.

Sedangkan perangkat pelengkap lainnya, seperti inverter, kabel, penyangga panel, kontrol daya dan proteksi, juga ada pabrikan yang mengadopsi teknologi dari luar untuk diproduksi di dalam negeri. Dan tim ahli untuk rekayasa dan desain, sudah banyak yang terseritifikasi oleh lembaga akreditasi.

Kebutuhan konsumsi listrik yang terus meningkat

Dari data ESDM, masih ada kurang lebih 20% masyarakat Indonesia yang belum menikmati listrik secara penuh. Hal ini dikarenakan akses infrastruktur yang kurang menjangkau dan kendala alam lainnya. Melalui program 35000 MW, pemerintah mencoba untuk menyelesaikan permasalahan ini secara bertahap.

Disamping itu, ketersediaan listrik untuk beberapa jaringan utama pulau juga belum sepenuhnya maksimal. Sebut saja jaringan pulau sumatera atau sulawesi yang masih terus berbenah untuk memberikan layanan listrik bagi masyarakat.

Hal tersebut diatas terjadi semata-mata karena pertumbuhan permintaan yang semakin tinggi. Aktivitas masyarakat modern yang tergantung terhadap listrik, semakin menyuburkan konsumsi energi. Dari satu sisi, kebutuhan energi yang meningkat berarti kebutuhan pembangkit yang semakin besar.

Dengan ketersediaan energi matahari yang cenderung selalu ada, memberikan potensi besar dalam penyediaan listrik terbarukan. Oleh karena itu sudah sewajarnya peningkatan aplikasi teknologi fotovoltaik sebagai pembangkit listrik yang memanen energi dari matahari menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia.

Apa komentar anda?

twelve + nineteen =