Masa Depan Energi Di Indonesia – Ketergantungan konsumsi negara Indonesia yang tinggi terhadap energi fosil bisa menjerumuskan Indonesia ke jurang defisit energi. Hal ini dikarenakan, pertumbuhan konsumsi energi terutama minyak dan gas tidak diikuti dengan peningkatan produksi sumber energi itu sendiri.

Kini produksi migas nasional justru terus menurun seiring dengan cadangan yang menipis dan minimnya kegiatan eksplorasi. Menurut data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan terbukti minyak sebesar 3,6 miliar barel dengan tingkat produksi 288 juta barel per tahun diperkirakan habis 12 tahun lagi. Sedangkan cadangan gas sebesar 98 triliun kaki kubik (tcf) akan habis dalam 33 tahun ke depan jika rata-rata produksi tahunan 3 tcf.

Sementara permintaan terhadap BBM terus meningkat, dan akan memaksa pelaku industri untuk mengimpor dengan jumlah yang akan terus semakin besar.

Solusi Untuk Masa Depan Energi Di Indonesia: ET

Untuk itu, solusi terbaik untuk pemenuhan Masa Depan Energi Di Indonesia adalah dengan menggenjot pengembangan energi terbarukan (ET). Selain ramah lingkungan, energi terbarukan juga bisa membawa Indonesia menuju ketahanan dan kemandirian energi sebab sumber cadangan energi ini sangatlah melimpah.

Indonesia punya banyak sumber energi terbarukan yang bisa dikembangkan untuk ketahanan energi masa depan. Namun sayangnya, potensi energi ini belum banyak dimanfaatkan. Data menunjukkan, dari total energi terbarukan sebanyak 443.208 megawatt (MW), pemanfaatannya baru 8.216 MW. Padahal pemerintah menargetkan bisa kontribusi energi terbarukan bisa mencapai 23 persen dalam bauran energi primer 2025.

Masa Depan Energi Di Indonesia, Harus Terjadi Perubahan!

Ingin tahu lebih banyak?

Dapatkan info terbaru tentang aplikasi tenaga surya langsung setiap harinya hanya dengan satu klik, segera gabung!
Email address

Salah satu energi terbarukan yang layak dikembangkan adalah energi surya. Berdasarkan data dari Dewan Energi Nasional, potensi energi matahari di Indonesia mencapai rata-rata 4,8 kilowatt hour (kwh) per meter persegi per hari, setara 112.000 GWp jika dibandingkan dengan potensi luasan lahan di Indonesia atau sepuluh kali lipat dari potensi Jerman dan Eropa.

Potensi energi matahari di Indonesia mencapai rata-rata 4,8 kilowatt hour (kwh) per meter persegi per hari, setara 112.000 GWp

Namun hingga saat ini, kapasitas yang tersalurkan dari instalasi yang terpasang baru ± 30 megawatt (MW). Kurang dari satu persen dari total potensi di seluruh Indonesia.

Dengan besarnya rata-rata potensi energi matahari di Indonesia, sudah selayaknya pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menjadi prioritas. Teknologi PLTS telah mengalami kemajuan yang pesat, efisiensi panel yang semakin tinggi dan biaya investasi yang semakin murah dapat menjawab tantangan penyediaan energi yang merata di negara kepulauan, Indonesia.

https://janaloka.com/wp-content/uploads/2017/09/energi-baru-dunia-janaloka-940x528.jpeghttps://janaloka.com/wp-content/uploads/2017/09/energi-baru-dunia-janaloka-300x169.jpegGalih RadityaInitiativesAC Coupling,aplikasi,baterai,community,design,development,EBT,ebtke,energi baru terbarukan,energi surya,ESDM,feed in tarif,Financing,Indonesia,inovation,Listrik desa,Panel surya,panel surya murah,PLTS,sel surya,solar system,technology,tender pltsMasa Depan Energi Di Indonesia - Ketergantungan konsumsi negara Indonesia yang tinggi terhadap energi fosil bisa menjerumuskan Indonesia ke jurang defisit energi. Hal ini dikarenakan, pertumbuhan konsumsi energi terutama minyak dan gas tidak diikuti dengan peningkatan produksi sumber energi itu sendiri. Kini produksi migas nasional justru terus menurun seiring dengan...The #1 Solar Energy Crowd