Energi Listrik Dari Energi Terbarukan: Sebuah Solusi
Energy

Energi Listrik Dari Energi Terbarukan: Sebuah Solusi

Energi listrik merupakan sumber energi yang paling banyak digunakan sekarang ini. Produksi dan pengantaran tenaga listrik tersebut, dalam jumlah yang cukup dapat menjalankan beragam peralatan yang kita gunakan sekarang ini, mulai dari gawai, televisi, pendingin ruangan, hingga alat-alat pabrik.

Pemerintah mencatat rasio elektrifikasi hingga semester I 2018 sudah mencapai 97,13%. Naik 2,22% dari rasio elektrifikasi 2017 sebesar 94,91%. Artinya hampir seluruh masyarakat Indonesia telah menikmati listrik.

Namun, yang menarik adalah, berdasarkan Laporan rencana penyediaan tenaga listrik untuk tercapainya target rasio elektrifikasi – RUPTL PT PLN (PERSERO) 2018-2027, kurang lebih 88% pembangkit listrik yang digunakan di Indonesia pada 2018 ini menggunakan sumber energi tidak terbarukan.

Hal ini menyisakan pertanyaan, pertama adalah apa rencana pemerintah untuk mengurangi sumber energi “tidak bersih” dalam pembangkit listrik Indonesia sekarang? Dan kedua sumber energi listrik dari energi terbarukan manakah yang memiliki potensi paling besar untuk menyediakan listrik bagi masyarakat Indonesia?

Rencana pemanfaatan energi terbarukan oleh pemerintah

Dalam rencana RUTPL PLN (PERSERO) 2018-2027, disebutkan pada 2025 target bauran energi baru dan terbarukan adalah sebesar 23% dengan target pembangkit listrik tenaga air 10%, tenaga panas bumi 12% dan tenaga energi baru terbarukan lainnya sebesar 1-2%.

Catatan: Ada perbedaan jumlah perhitungan dalam Laporan rencana penyediaan tenaga listrik untuk tercapainya target rasio elektrifikasi – RUPTL PT PLN (PERSERO) 2018-2027 oleh DJK ESDM. Di dokumen tertulis target pembangkit listrik tenaga air 10%, tenaga panas bumi 12% dan tenaga energi baru terbarukan lainnya sebesar 2%, sehingga total persentase yang ada adalah 24%. Berbeda 1% dari target bauran energi sebesar 23%. Untuk menghindari kekeliruan, janaloka.com tetap mengacu pada jumlah total 23%, dengan penjelasan per pembangkit menyesuaikan.

Dalam rencana tersebut, terdapat kebutuhan tambahan pemasangan pembangkit sebesar 56 GW hingga 2027. Adapun kebutuhan untuk energi baru dan terbarukan adalah 8% dialokasikan untuk pembangkit listrik panas bumi, 15% untuk pembangkit tenaga air dan 4% lainnya untuk energi baru terbarukan lainnya.

Untuk kapasitas pembangkit energi baru terbarukan lainnya setara dengan ± 2 GW pembangkit. Adapun yang disebut sebagai pembangkit energi baru terbarukan lainnya ini adalah:

  1. Sumber energi surya, rencana akan dipasang 1,047 GW.
  2. Sumber energi bayu (angin), rencana akan dipasang 0,589 GW.
  3. Sumber energi biomass (sampah), rencana akan dipasang 0,411 GW.

Sumber energi listrik mana yang paling tinggi potensinya?

Dalam dokumen RUPTL PT PLN (Persero) 2018-2027, tertuang potensi energi baru dan terbarukan yang ada di Indonesia. Beberapa diantaranya adalah:

No. Sumber Energi  Potensi  Terpasang
1 Panas bumi              29.544,00  MW    1.438,50  MW 4,87%
2 Hidro              75.091,00  MW    4.826,70  MW 6,43%
3 Mini-micro hidro              19.385,00  MW       197,40  MW 1,02%
4 Surya           207.898,00  MW          78,50  MW 0,04%
5 Angin              60.647,00  MW            3,10  MW 0,01%
6 Bioenergi              32.654,00  MW    1.671,00  MW 5,12%
7 Gelombang laut              17.989,00  MW            0,30  MW 0,00%

Jika dilihat dari tabel diatas, pemerintah telah menyimpulkan bahwa sumber energi listrik surya memiliki potensi terbesar, yaitu 207 GW dibanding sumber energi terbarukan lainnya. Namun penggunaannya di lapangan cenderung sangat kecil, hanya 0,04% dari total potensi energi terbarukan tersebut.

Jikapun, dibutuhkan untuk memenuhi 56 GW target pembangkit pada 2027, sumber energi matahari dapat memenuhinya dengan secara penuh.

Untuk pemanfaatan di lapangan, energi surya cenderung lebih adaptif terhadap kebutuhan lapangan, dan paling mudah untuk dilakukan instalasi serta perawatan. Kapasitasnya juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing lokasi. Jikapun terkendala dengan sinar matahari yang tidak 24 jam, dapat memanfaatkan teknologi baterai penyimpanan yang telah banyak berkembang sekarang ini.

Namun mengapa pemerintah tetap mengandalkan pembangkit batubara yang “kotor”? Dan mengembangkan pembangkit dengan biaya investasi yang mahal dan membutuhkan waktu lama untuk dipasang, seperti panas bumi?

Apa komentar anda?

four × 1 =

Ingin Pasang Panel Surya?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan informasi seputar pemasangan sistem listrik surya
Alamat Email
Secure and Spam free...