Berapa Kerugian PLN Bersaing Dengan Listrik Surya Atap?
Energy

Berapa Kerugian PLN Bersaing Dengan Listrik Surya Atap?

Jika saja (dan hanya jika) listrik surya atap berhasil digunakan secara luas, bagaimana dampaknya terhadap keberlangsungan ekonomi PLN. Berapa kerugian PLN bersaing dengan listrik surya atap?

Mengenai PLN

PT PLN (Persero) merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang penyediaan tenaga listrik.

Mengutip profil perusahaan dari situs pln.co.id, PLN pertama kali berdiri pada 27 Oktober 1945. Perusahaan ini menggunakan nama Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik sebesar 157,5 MW.

Seiring dengan perkembangan kebutuhan listrik Indonesia, sejak tahun 1994 status PLN beralih dari Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) dan juga sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK) dalam menyediakan listrik bagi kepentingan umum.

Walaupun pada 2009, PLN bukan lagi sebagai PKUK.

Berdasarkan laporan www.idx.co.id, PLN mendapatkan pendapatan usaha dari penjualan tenaga listrik sebesar Rp. 62.915.939.000.000,- pada periode 31 Desember 2017 hingga 31 Maret 2018.

Adapun besaran biaya pokok penyediaan pembangkit nasional pada periode tersebut mengacu pada Keputusan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 1772 K/20/MEM/2018 Tentang Besaran Biaya Pokok Penyediaan Pembangkitan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Tahun 2017, adalah sebesar 7,66 cent US$ / kWh. Biaya ini setara Rp. 1.025/kWh, dengan nilai tukar kurs  Rp l3.383/US$ pada periode tersebut.

Dengan tarif dasar listrik hingga Maret 2018, sebesar Rp. 1.467,28 / kWh.

Mengenai listrik surya atap

Listrik surya atap merupakan tipe pembangkit listrik surya yang memanfaatkan atap sebagai ruang peletakan panel surya, sehingga mudah diaplikasikan oleh rumah tangga, bisnis dan industri.

Sejurus dengan hal ini, Direktur Jeneral Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kemen ESDM beserta beberapa stakeholder di bidang listrik surya melakukan Deklarasi Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap Menuju Gigawatt Fotovoltaik di Indonesia, pada 13 September 2017.

Tujuan gerakan ini adalah membantu memenuhi 1 GWp kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya, dari target sebesar 5 GWp di 2019. Dengan asumsi bahwa ada kurang lebih 10 juta pelanggan merupakan rumah tangga dengan tingkat ekonomi menengah ke atas, sehingga diharapkan secara realistis 10% jumlah pelanggan tersebut dapat menggunakan listrik surya atap dengan kapasitas minimal 1 kWp per rumah.


Berapa kerugian PLN bersaing dengan listrik surya atap?

Jika diasumsikan Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap Menuju Gigawatt Fotovoltaik di Indonesia berhasil dan telah mencapai target 1 GWp. Apakah PLN merugi?

Jika mengacu pada nilai pendapatan penjualan listrik PLN sebesar 62,9T, kemudian dibagi dengan 3 bulan periode dan tarif dasar listrik. Maka akan didapat konsumsi harian sebesar ± 476 juta kWh/hari.

Di sisi lain, jika kita asumsikan nilai potensi radiasi matahari terbaik di Indonesia, selama periode Januari – Maret 2018, sebesar 5 jam/hari. Kapasitas panel surya 1 GWp dapat menghasilkan ± 5 juta kWh/hari. Atau, jika dikalikan dengan nilai tarif dasar listrik untuk periode 3 bulan, maka akan didapat besar nilai 660M.

Sementara dengan nilai BPP, bisa diasumsikan bahwa pelanggan PLN mengurangi ± 461,2M biaya yang harus dikeluarkan oleh PLN untuk menyediakan energi listrik.

Jadi, dari perhitungan diatas, dapat dilihat bahwa:

  1. Listrik surya atap hanya mengurangi ± 1% konsumsi harian listrik dari PLN. Angka ini didapat dari perbandingan produksi ± 5 juta kWh/hari listrik surya atap dengan produksi harian PLN sebesar ± 476 juta kWh/hari.
  2. PLN berpotensi kehilangan 660M pendapatan selama periode 3 bulan, namun berpotensi melakukan penghematan ± 461,2M dari biaya produksi listrik. Dengan kata lain, potensi kehilangan pendapatan PLN adalah sebesar ± 198,8M selama periode 3 bulan, atau ± 2,2M per hari. Sebanding ± 0,31% dari pendapatan PLN periode 31 Desember 2017 hingga 31 Maret 2018.

Perhitungan diatas, tentu tidak dapat digunakan sebagai acuan dan diakui kebenarannya secara penuh. Dibutuhkan metode perhitungan yang lebih baik. Namun dapat dipahami sebagai gambaran, mengenai asumsi dan potensi kemungkinan yang terjadi.

Jadi, bagaimana menurut Anda?

Apa komentar anda?

eleven − eight =

Ingin Pasang Panel Surya?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan informasi seputar pemasangan sistem listrik surya
Alamat Email
Secure and Spam free...