5 Rintisan Penelitian Sel Surya Dari Tumbuhan Oleh Akademisi Indonesia
Invention

5 Rintisan Penelitian Sel Surya Dari Tumbuhan Oleh Akademisi Indonesia

Lebih dari 90 persen sel surya yang digunakan saat ini berbahan utama silikon. Selain kendala masih cukup tingginya bahan utama silikon, limbah dari pengolahan material ini juga menjadi isu yang cukup banyak diperdebatkan.

Oleh karena itu, para peneliti dari seluruh dunia pun berlomba-lomba mencari altematif peranti sel surya yang murah dengan kualitas yang rasional dan mudah difabrikasi.

Dibawah ini adalah beberapa rintisan penelitian sel surya dari tumbuhan oleh Akademisi Indonesia, disimak yuk:

Sel surya berbasis pewarna alami dari bunga Rosella dan Alga

Peneliti dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, bersama beberapa Universitas dan Lembaga Riset Indonesia, mengembangkan sel surya berbasis pewarna (dye sensitized solar cell/DSSC), yang diklaim jauh lebih murah dari sel surya berbahan silikon.

Dalam teknologi DSSC tersebut, ada empat material yang digunakan berupa substrat, titanium, dye (pewarna alami), dan elektrolit. Titanium dan pewarna alami menjadi komponen penting sel surya berbasis pewarna tersebut.

Dr. Agus Supriyanto, salah seorang peneliti Fakultas MIPA UNS, menjelaskan, titanium berfungsi menyalurkan energi listrik yang terserap, sedangkan pewarna alami berfungsi menyerap sinar matahari. Sekarang, Ia telah meneliti pewarna alami berupa antosianin yang berasal dari bunga rosella dan klorofil dari alga.

Bahan baku titanium digunakan karena bahan tersebut tersedia cukup melimpah di Indonesia dan relatif lebih murah dibanding harga silica yang diolah menjadi silikon. Titanium diperoleh dari pemisahan kandungan besi dan titanium dari ilmenite yang merupakan sisa pembuatan timah. Ilmenite mengandung sekitar 70 persen titanium.

Sel surya berbasis bunga sepatu, buah duwet, bunga delima, dan kunyit

Struktur pewarna pada hasil ekstraksi pada bunga sepatu, buah duwet, bunga delima, dan kunyit berperan sebagai penyerap cahaya dan pemicu aliran elektron dalam sistem.

Ekstraksi ini di-campurkan dengan semikonduktor nanopori TiCb menjadi sebuah lapisan tipis. Sel surya Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC) ini diharapkan dapat menjadi generasi baru sel surya pengganti silikon.

Penggunaan zat warna sebagai fotosensitizer dapat memperbesar keluaran listrik yang dihasilkan sel surya dari tumbuhan tersebut.

Ari Handono Ramelan dari tim Pusat Studi Material dan Energi Pintar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret, Solo, bersama tim dari Universitas New South Wales, Australia, mengembangkan bunga sepatu, buah duwet, bunga delima, dan kunyit sebagai bahan organik penyusun sel surya berbahan organik.

Sejauh ini, DSSC yang berbasis bahan organik diketahui masih memiliki kelemahan, yakni tidak begitu tahan terhadap paparan sinar matahari sehingga mengakibatkan masa pakainya lebih pendek dibandingkan sel surya anorganik, seperti silikon. GaAS, dan GaSb.

Sel surya berbasis kulit manggis

Sekelompok mahasiswa ITS memanfaatkan kulit manggis sebagai bahan pembuatan sel surya. Melalui penelitian ini, kulit manggis akan menjadi motor penyerap cahaya matahari dalam device sel surya dengan penambahan nanomaterial kuantum dot dan ruthenium complex.

Diprakarsai oleh Ichsanul Huda, kelompok PKM Penelitian ini menemukan jika kulit manggis berguna sebagai salah satu bahan pembuat sel surya jenis Dye Sensitized Solar Cell (DSSC).

Dari penelitian ini, dapat diketahui bahwa penambahan dye sintetis dan kuantum dot CdSe pada dye kulit manggis, daya serap sel surya dan performa prototipe DSSC bisa meningkat.

Penelitian ini juga telah lolos dalam International Conference of Engineering, Science and Nanotechnology serta diterbitkan di situs jurnal penelitian bergensi, American Institute of Physics.

Sel surya berbasis kulit kopi

Empat Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Brawijaya (UB) Malang menciptakan sel surya jenis Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC) dengan bahan baku dari kulit kopi.

Kulit kopi ini memiliki fungsi ganda, yakni sebagai zat pewarna alami berupa antosianin dan counter electrode berupa karbon aktif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini, berupa purwarupa dari DSSC yang dapat digunakan dalam skala kecil.

Dengan adanya inovasi ini diharapkan pemanfaatan limbah kulit kopi tidak hanya sebatas pada pembuatan pupuk organik dan pakan ternak saja. Akan tetapi masyarakat juga dapat meningkatkan daya jual kulit kopi dan menjadikan kulit kopi sebagai salah satu industri sel surya dari tumbuhan di Indonesia.

Sel surya berbasis Buah Naga, Bunga Sepatu dan Daun Sambiloto

Empat mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) yang tergabung dalam kelompok Program Kreativitas Mahasiswa – Penelitian Eksakta (PKM – PE), berusaha membuat sel surya dari tumbuhan yang murah dan sederhana berbasis dye sensitized solar cell (DSSC) dengan mengkombinasikan pigmen Buah Naga, Bunga Sepatu dan Daun Sambiloto.

Pembuatan DSSC cukup sederhana, yakni melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah pembuatan pasta dengan mencampurkan 0,5 gram bubuk Zinc Oxide (ZnO) dengan campuran pigmen tumbuhan. Selanjutnya, pasta tersebut dioleskan ke permukaan kaca konduktif berukuran 1×1,5 cm, lalu dikeringkan dengan hair dryer selama 10 menit.

Tahap kedua adalah pelapisan karbon di atas kaca konduktif dengan api lilin. Tahap terakhir yaitu menambahkan satu tetes larutan iodin ke atas permukaan kaca terlapisi karbon. Lalu kedua kaca disatukan dengan penjepit kertas.

Sel surya yang sudah jadi kemudian dijemur di bawah sinar matahari. Lalu tumpukan kaca tersebut akan menghasilkan energi listrik.

Apa komentar anda?

7 − six =

Ingin Pasang Panel Surya?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan informasi seputar pemasangan sistem listrik surya
Alamat Email
Secure and Spam free...